PENGOLAHAN
AIR LIMBAH ( IPAL )
RSUP
Dr. SARDJITO YOGYAKARTA
A.
PENDAHULUAN
Rumah Sakit Umum Pusat ( RSUP )
Dr.Sardjito merupakan rumah sakit pemerintahan Type A yang dikelola oleh
Departemen Kesehatan. Rumah sakit ini memberikan 12 jenis pelayanan spesialis luas
dan spesialis terbatas.Pelayanan spesialis dan subspesialis meliputi yaitu:
pelayanan bedah, penyakit dalam, kebidanan, kesehatan anak, mata, THT, kulit
dan kelamin, jiwa, syaraf, gigi mulut, jantung, paru-paru, bedah saraf dan
ortopedi.
Pengolahan pada Instalasi Pengolahan
Air Limbah RSUP Dr. Sardjito secara biologis yaitu pengolahan air limbah untuk
mengurangi zat-zat organik yang terdapat dalam air lmbah itu sendiri.
Pengolahan semacam ini dikenal dengan nama proses lumpur aktif (sludge
activated). Pada proses penggunaan lumpur aktif, air limbah ditampung terlebih
dahulu dalam bak aerasi dengan tujuan untuk memperbanyak jumlah bakteri secara
cepat agar proses biologis dalam mengurangi zat-zat organik yang terdapat dalam
air limbah berjalan lebih cepat.
Lumpur aktif yang dikenal sebagai
MLSS (mixed liquor suspended solid) yang digunakan pada proses biologi ini
berasal dari lumpur bak pengendap yang dimasukkan ke dalam tangki aerasi
bersama-sama dengan penambahan oksigen. Sisa lumpur yang mengendap dalam bak
pengendap selanjutnya dipompakan ke bak pengering lumpur (sludge drying bed). (
Christiani, 2002 ).
Produksi limbah cair yang dihasilkan
pada IPAL RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta sebesar 828.057 m3 perhari. Dari
produksi limbah cair tersebut yang diolah dengan metode lumpur aktif
menghasilkan lumpur sebanyak 0.31466 m³/hari. Dari produksi lumpur perhari yang
begitu besar apabila tidak dimanfaatkan hanya akan tertumpuk pada bak
penegering lumpur.
B.
HASIL
PENGAMATAN LAPANGAN
Pengolahan air limbah dengan menggunakan Lumpur aktif, agar
dapat memperoleh hasil dibawah ambang batas baku mutu yang telah ditetapkan,
maka pengolahan air limbah dariawal (inlet) sampai akhir (outlet) harus melalui
unit-unit proses sebagai berikut :
1. Bak Penyaring (Barscreen)
Merupakan unit pengolahan yang
pertama dijumpai dalam bangunan pengolahan air limbah. Air limbah yang
dihasilkan oleh unit-unit penghasil limbah di tamping di bak penampung
sementara lalu dialirkan ke pipa pemasukan dengan debit rata-rata 8
liter/detik. Dari inlet ini bak penyaring mulai berfungsi menyaring bahan-bahan
kasar seperti plastik, kertas, kayu untuk tidak masuk ke unit pengolahan
selanjutnya. Bak penyaring juga berfungsi untuk melindungi pompa, valve dn
peralatan instalasi lainnya dari gangguan yang disebabkan oleh kehadiran
benda-benda kasar yang terbawa aliran. Bak penyaring ada pada instalasi
Pengolahan air limbah RSUP Dr. Sardjito terbuat dari anyaman besi stainlees
steel sebanyak dua buah yang dipasang secara vertical dan sejajar. Bahan-bahan
kasar yang tersangkut/tersaring diangkut secara manual dan dibuang sebagai
sampah.
2. Bak penangkap pasir
Bak penangkap pasir berfungsi untuk
menghilangkan kerikil halus yang berupa pasir, koral atau zat padat berat
lainnya yang mengalami penurunan kecepatan atau mempunyai gaya berat lebih
besar dari zat organik yang dapat membusuk dalam air limbah. Dua bagian
digunakan secara rutin dan satu lagi digunakan sebagai cadangan bila ada yang
dikuras atau dibersihkan.
Volume Bak = P × L × T = 7m × 1,9 m × 0,8 m =10,64 m
3. Bak Equalisasi
Setelah melewati bak penagkap pasir,
air limbah dengan debit antara 5-30 liter/detik dialirkan masuk ke bak
equalisasi. Letak bak equalisai berada lebih rendah dari bak penangkap pasir. Fungsi
utama dari bak equalisasi adalah untuk perataan debit air limbah yang masuk ke
unit pengolahan selanjutnya. Selain dari pada itu bak equalisasi ini juga
berfungsi sebagai sebagai kolam pencampuran air limbah itu sendiri. Pencampuran
ini dimaksudkan untuk menciptakan keadaan yang homogen dari air limbah tersebut
untuk selanjutnya dipompa ke bak aerasi. Pencampuran juga di lakukan oleh pompa
pengangkut air limbah dari bak equalisasi ke bak aerasi dengan cara
mengembalikan sebagian dari debit yang diangkut ke bak aerasi. Hal ini
dilakukan karena bak aerasi mempunyai kapasitas pengolahan antara 10-12
liter/detik, sedangkan tenaga pompa pengangkut adalah 20 liter/detik, sisanya 10liter/detik
dikembalikan ke bak equalisasi.
Volume Bak Equalisasi = 200 m³, dengan dimensi = P × L × T = 5,5m × 5,5m × 7m
4. Bak Aerasi
Bak aerasi pada instalasi pengolahan
air limbah RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta memasukkan udara ke dalam air limbah
melalui benda porous atau nozel. Nozel diletakkan di bagian dasar bak sebanyak
15 buah yang disusun seri dalam tiga baris sehingga ada lima nozel dalam satu
barisnya. Pada proses aerasi harus tersedia oksigen minimum 1-2mg/liter air
limbah atau secara teoritis banyaknya oksigen yang harus disediakan disbanding
dengan derajat kekotoran air limbah yang ada adalah sebesar 40-80m3 udara untuk
setiap 1kg BOD. Dengan adanya penambahan oksigen dan lumpur kedalam bak aerasi
dapat meningkatkan penambahan mikroorganisme seiring pembentukan sel baru.
Jumlah sel baru lebih banyak dari sel yang mati sehingga terjadi pertumbuhan
mokroorganisme positif.
Hasil dari penguraian zat organik
yang terdapat dalam air limbah pada bak aerasi ini akan membentuk flok
(biosolid) yang kemudian dialirkan kedalam bak pengendapan (sedimentsi). Zat
organic yang diuraikan oleh mikroorganisme dalam air limbah berupa gas, ion,
cairan kolid atau bahan terlarut.
5. Bak Pengendapan (Sedimentasi)
Bak pengendapan berfungsi untuk
mengendapkan semua lumpur maupun partikel yang sudah melalui proses sebelumnya.
Biosolid atau flok-flok yang terbentuk dari proses perombakan zat organic dan
mengendap pada bak pengendap. Waktu pengendapan pada bak sedimentasi
berlangsung selama 6jam. Flok-flok yang mengapung dipermukaan dapat dihilangkan
dengan pengadukan secara mekanis dan juga mengeluarkan melalui over flow masuk
kesumur penampungan flok untuk selanjutnya dipompa kembali ke bak aerasi.
6. Bak Penampung Lumpur
Bak penampung lumpur ini berfungsi
untuk menampung lumpur dari bak sedimentasi untuk selanjutnya dipompakan ke bak
aerasi sebagai recycle. Bak ini juga berfungsi untuk menampung lumpur sisa recycle untuk
selanjutnya lima hari sekali dipompakan ke bak pengering lumpur.
Volume Bak Penampung Lumpur adalah 40m³ dengan dimensi = 4m × 2m × 5m
7. Bak Biologis
Bak uji biologis ini berfungsi
apakah air limbah hasil pengolahan sudah layak dibuang ke badan air atau belum.
Dalam bak uji biologis ini dipelihara ikan dan tumbuhan azola sebagai
indicator, hal ini menunjukkan bahwa air limbah tersebut sudah layak dibuang ke
badan air.
8. Bak Desinfeksi dan Bak Kontak Chlor
Merupakan unit pengolahan yang
terakhir dalam setiap instalasi pengolahan air hasil pengolahan dialirkan ke
badan air. Pembunuhan bakteri bertujuan untuk mengurangi atau membunuh
mikroorganisme pathogen yang ada dalam air limbah. Bahan desinfeksi yang sering
digunakan adalah chlorine yang berbentuk garam atau dikenal dengan nama kaporit
(Ca(Ocl)²). Untuk dapat menghasilkan sisa chlor sesuai batas yang telah
ditetapkan, diperlukan waktu kontak antara titik pembubuhan sampai effluent
selama 30-60 menit, setelah itu effluent baru dialirkan ke badan air penerima.
Kebutuhan kaporit untuk membunuh mikroorganisme pada instalasi pengolahan air limbah RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta adalah
1kg/hari.
9. Bak Desinfeksi dan Bak Kontak Chlor Darurat
Fungsinya sama dengan bak desinfeksi
dan bak kontak chlor utama. Bak desinfeksi dan kontak chlor darurat ini
dipergunakan apabila bak desinfeksi dan kontak chlor utama dalam perbaikan atau
pemeliharaan
10. Bak Pengering Lumpur
Lumpur merupakan hasil akhir dari
setiap instalasi pengolahan air limbah. Pada Instalasi pengolahan air limbah
yang menggunakan sistem lumpur aktif yang dihasilkan dalam bak sedimentasi
sebagai recycle dan sebagian lagi dipompakan ke bak pengering lumpur. Lumpur yang ditumpahkan ke bak
pengering lumpur biasanya mengandung kadar solid 10 % dan air 90 %.
Air yang meresap melewati lapisan
penyaring, masuk ke pipa Unser Drain dan sebagian lagi menguap ke udara. Waktu
pengeringan lumpur biasanya 3 sampai 4 minggu dengan ketebalan lapisan lumpur dalam bak pengering
antara 15 cm sampai 25
cm. semakin tebal lapisan lumpur, waktu pengeringan semakin lama apalagi ke
dalam bak pengering lumpur yang sudah berisi lumpur masih dimasukkan lagi
lumpur yang baru. Keadaan cuaca juga mempengaruhi lamanya waktu pengeringan
lumpur.
C.
KESIMPULAN
1. Sistem pengolahan limbah baik limbah cair maupun limbah B3 di
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta bisa
dikatakan sudah sangat baik, ini dikarenakan lengkapnya alat alat pengolahan
limbah
2. Kualitas air limbah RSUP Dr. Sardjito yang dibuang ke Badan
air sungai Code setelah melalui proses pengolahan dengan metode lumpur aktif
sudah memenuhi baku mutu yang ditetapkan pemerintah.
3.
Pemanfaatan lumpur hasil pengolahan masih kurang optimal.
D.
REKOMENDASI
1.
Lebih baik jika dilakukan pemilahan limbah dari sumbernya
dan sesuai dengan kategori karena pembuangan limbah cukup besar
2.
Sebaiknya para petugas pengolah limbah menggunakan APD untuk
kegiatan yang mengandung resiko bahaya, karena dalam prakteknya masih terdapat
petugas yang tidak menggunakan APD
3.
Karena produk lumpur kering hasil pengolahan masih banyak
yang belum bias dimanfaatkan semaksimal mungkin maka, disarankan untuk bisa
dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman hias/taman-taman yang ada disekitar RSUP
Dr.Sardjito atau pihak-pihak lain yang membutuhkan (apabila lumpur tersebut
tidak mengandung Bahan B3)
DAFTAR PUSTAKA
Agustiani, Elly; Slamet, Agus; Winarni, Dyah. 1998. Penambahan
PAC Pada Proses Lumpur Aktif Untuk Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit : Laporan
Penelitian. Surabaya: Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi 10
November
Arthono, Andri. 2000. Perencanaan Pengolahan Air
Limbah Cair Untuk Rumah Sakit Dengan Metode Lumpur Aktif. Media ISTA : 3
(2) 2000 :15-18
Christiani. 2002. Pemanfaatan Substrat Padat
Untuk Imobilisasi Sel Lumpur Aktif Pada Pengolahan Limbah Cair Rumah Sakit.
Buletin Keslingmas
Giyatmi. 2003. Efektifitas Pengolahan Limbah Cair
Rumah Sakit Dokter Sardjito Yogyakarta Terhadap Pencemaran Radioaktif.
Yogyakarta : Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada
Said, Nusa Idaman. 1999. Teknologi Pengelolaan
Air Limbah Rumah Sakit Dengan Sistem “Biofillter Anaerob-Aerob”. Seminar
Teknologi Pengelolaan Limbah II: prosiding, Jakarta, 16-17 Feb 1999
ass wr wb
BalasHapusseiring perkembangan industri yang kian meningkat di indoensia. terutama dalam pembangunan Rumah Sakit, Hotel dan Pabrik Pabrik terutama Pabrik Textil, Tidak Menutup Kemungkinan dapat meningkatkan pencemaran lingkungan yang di akibatkan air limbah dari institusi tersebut. untuk mengurangi dampak tersebut kami PT. BANYU BIRU BERKAH SEJATI menyediakan jasa konsultasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
Hubungi kami disini http://banyubiruberkahsejati.co.id/