Jumat, 05 Juli 2013

Makalah PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

PENGOLAHAN AIR LIMBAH ( IPAL )
RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA

A.    PENDAHULUAN
Rumah Sakit Umum Pusat ( RSUP ) Dr.Sardjito merupakan rumah sakit pemerintahan Type A yang dikelola oleh Departemen Kesehatan. Rumah sakit ini memberikan 12 jenis pelayanan spesialis luas dan spesialis terbatas.Pelayanan spesialis dan subspesialis meliputi yaitu: pelayanan bedah, penyakit dalam, kebidanan, kesehatan anak, mata, THT, kulit dan kelamin, jiwa, syaraf, gigi mulut, jantung, paru-paru, bedah saraf dan ortopedi.
Pengolahan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah RSUP Dr. Sardjito secara biologis yaitu pengolahan air limbah untuk mengurangi zat-zat organik yang terdapat dalam air lmbah itu sendiri. Pengolahan semacam ini dikenal dengan nama proses lumpur aktif (sludge activated). Pada proses penggunaan lumpur aktif, air limbah ditampung terlebih dahulu dalam bak aerasi dengan tujuan untuk memperbanyak jumlah bakteri secara cepat agar proses biologis dalam mengurangi zat-zat organik yang terdapat dalam air limbah berjalan lebih cepat.
Lumpur aktif yang dikenal sebagai MLSS (mixed liquor suspended solid) yang digunakan pada proses biologi ini berasal dari lumpur bak pengendap yang dimasukkan ke dalam tangki aerasi bersama-sama dengan penambahan oksigen. Sisa lumpur yang mengendap dalam bak pengendap selanjutnya dipompakan ke bak pengering lumpur (sludge drying bed). ( Christiani, 2002 ).
Produksi limbah cair yang dihasilkan pada IPAL RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta sebesar 828.057 m3 perhari. Dari produksi limbah cair tersebut yang diolah dengan metode lumpur aktif menghasilkan lumpur sebanyak 0.31466 m³/hari. Dari produksi lumpur perhari yang begitu besar apabila tidak dimanfaatkan hanya akan tertumpuk pada bak penegering lumpur.

B.     HASIL PENGAMATAN LAPANGAN
Pengolahan air limbah dengan menggunakan Lumpur aktif, agar dapat memperoleh hasil dibawah ambang batas baku mutu yang telah ditetapkan, maka pengolahan air limbah dariawal (inlet) sampai akhir (outlet) harus melalui unit-unit proses sebagai berikut :
1.      Bak Penyaring (Barscreen)
Merupakan unit pengolahan yang pertama dijumpai dalam bangunan pengolahan air limbah. Air limbah yang dihasilkan oleh unit-unit penghasil limbah di tamping di bak penampung sementara lalu dialirkan ke pipa pemasukan dengan debit rata-rata 8 liter/detik. Dari inlet ini bak penyaring mulai berfungsi menyaring bahan-bahan kasar seperti plastik, kertas, kayu untuk tidak masuk ke unit pengolahan selanjutnya. Bak penyaring juga berfungsi untuk melindungi pompa, valve dn peralatan instalasi lainnya dari gangguan yang disebabkan oleh kehadiran benda-benda kasar yang terbawa aliran. Bak penyaring ada pada instalasi Pengolahan air limbah RSUP Dr. Sardjito terbuat dari anyaman besi stainlees steel sebanyak dua buah yang dipasang secara vertical dan sejajar. Bahan-bahan kasar yang tersangkut/tersaring diangkut secara manual dan dibuang sebagai sampah.
2.      Bak penangkap pasir
Bak penangkap pasir berfungsi untuk menghilangkan kerikil halus yang berupa pasir, koral atau zat padat berat lainnya yang mengalami penurunan kecepatan atau mempunyai gaya berat lebih besar dari zat organik yang dapat membusuk dalam air limbah. Dua bagian digunakan secara rutin dan satu lagi digunakan sebagai cadangan bila ada yang dikuras atau dibersihkan.
         Volume Bak = P × L × T = 7m × 1,9 m × 0,8 m =10,64 m
3.      Bak Equalisasi
Setelah melewati bak penagkap pasir, air limbah dengan debit antara 5-30 liter/detik dialirkan masuk ke bak equalisasi. Letak bak equalisai berada lebih rendah dari bak penangkap pasir. Fungsi utama dari bak equalisasi adalah untuk perataan debit air limbah yang masuk ke unit pengolahan selanjutnya. Selain dari pada itu bak equalisasi ini juga berfungsi sebagai sebagai kolam pencampuran air limbah itu sendiri. Pencampuran ini dimaksudkan untuk menciptakan keadaan yang homogen dari air limbah tersebut untuk selanjutnya dipompa ke bak aerasi. Pencampuran juga di lakukan oleh pompa pengangkut air limbah dari bak equalisasi ke bak aerasi dengan cara mengembalikan sebagian dari debit yang diangkut ke bak aerasi. Hal ini dilakukan karena bak aerasi mempunyai kapasitas pengolahan antara 10-12 liter/detik, sedangkan tenaga pompa pengangkut adalah 20 liter/detik, sisanya 10liter/detik dikembalikan ke bak equalisasi.
         Volume Bak Equalisasi = 200 m³, dengan dimensi = P × L × T = 5,5m × 5,5m × 7m


4.      Bak Aerasi
Bak aerasi pada instalasi pengolahan air limbah RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta memasukkan udara ke dalam air limbah melalui benda porous atau nozel. Nozel diletakkan di bagian dasar bak sebanyak 15 buah yang disusun seri dalam tiga baris sehingga ada lima nozel dalam satu barisnya. Pada proses aerasi harus tersedia oksigen minimum 1-2mg/liter air limbah atau secara teoritis banyaknya oksigen yang harus disediakan disbanding dengan derajat kekotoran air limbah yang ada adalah sebesar 40-80m3 udara untuk setiap 1kg BOD. Dengan adanya penambahan oksigen dan lumpur kedalam bak aerasi dapat meningkatkan penambahan mikroorganisme seiring pembentukan sel baru. Jumlah sel baru lebih banyak dari sel yang mati sehingga terjadi pertumbuhan mokroorganisme positif.
Hasil dari penguraian zat organik yang terdapat dalam air limbah pada bak aerasi ini akan membentuk flok (biosolid) yang kemudian dialirkan kedalam bak pengendapan (sedimentsi). Zat organic yang diuraikan oleh mikroorganisme dalam air limbah berupa gas, ion, cairan kolid atau bahan terlarut.
5.      Bak Pengendapan (Sedimentasi)
Bak pengendapan berfungsi untuk mengendapkan semua lumpur maupun partikel yang sudah melalui proses sebelumnya. Biosolid atau flok-flok yang terbentuk dari proses perombakan zat organic dan mengendap pada bak pengendap. Waktu pengendapan pada bak sedimentasi berlangsung selama 6jam. Flok-flok yang mengapung dipermukaan dapat dihilangkan dengan pengadukan secara mekanis dan juga mengeluarkan melalui over flow masuk kesumur penampungan flok untuk selanjutnya dipompa kembali ke bak aerasi.
6.      Bak Penampung Lumpur
Bak penampung lumpur ini berfungsi untuk menampung lumpur dari bak sedimentasi untuk selanjutnya dipompakan ke bak aerasi sebagai recycle. Bak ini juga berfungsi untuk menampung lumpur sisa recycle untuk selanjutnya lima hari sekali dipompakan ke bak pengering lumpur.
         Volume Bak Penampung Lumpur adalah 40m³ dengan dimensi = 4m × 2m × 5m
7.      Bak Biologis
Bak uji biologis ini berfungsi apakah air limbah hasil pengolahan sudah layak dibuang ke badan air atau belum. Dalam bak uji biologis ini dipelihara ikan dan tumbuhan azola sebagai indicator, hal ini menunjukkan bahwa air limbah tersebut sudah layak dibuang ke badan air.
8.      Bak Desinfeksi dan Bak Kontak Chlor
Merupakan unit pengolahan yang terakhir dalam setiap instalasi pengolahan air hasil pengolahan dialirkan ke badan air. Pembunuhan bakteri bertujuan untuk mengurangi atau membunuh mikroorganisme pathogen yang ada dalam air limbah. Bahan desinfeksi yang sering digunakan adalah chlorine yang berbentuk garam atau dikenal dengan nama kaporit (Ca(Ocl)²). Untuk dapat menghasilkan sisa chlor sesuai batas yang telah ditetapkan, diperlukan waktu kontak antara titik pembubuhan sampai effluent selama 30-60 menit, setelah itu effluent baru dialirkan ke badan air penerima. Kebutuhan kaporit untuk membunuh mikroorganisme pada instalasi pengolahan air limbah RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta adalah 1kg/hari.
9.      Bak Desinfeksi dan Bak Kontak Chlor Darurat
Fungsinya sama dengan bak desinfeksi dan bak kontak chlor utama. Bak desinfeksi dan kontak chlor darurat ini dipergunakan apabila bak desinfeksi dan kontak chlor utama dalam perbaikan atau pemeliharaan
10.  Bak Pengering Lumpur
Lumpur merupakan hasil akhir dari setiap instalasi pengolahan air limbah. Pada Instalasi pengolahan air limbah yang menggunakan sistem lumpur aktif yang dihasilkan dalam bak sedimentasi sebagai recycle dan sebagian lagi dipompakan ke bak pengering lumpur. Lumpur yang ditumpahkan ke bak pengering lumpur biasanya mengandung kadar solid 10 % dan air 90 %.
Air yang meresap melewati lapisan penyaring, masuk ke pipa Unser Drain dan sebagian lagi menguap ke udara. Waktu pengeringan lumpur biasanya 3 sampai 4 minggu dengan ketebalan lapisan lumpur dalam bak pengering antara 15 cm sampai 25 cm. semakin tebal lapisan lumpur, waktu pengeringan semakin lama apalagi ke dalam bak pengering lumpur yang sudah berisi lumpur masih dimasukkan lagi lumpur yang baru. Keadaan cuaca juga mempengaruhi lamanya waktu pengeringan lumpur.


C.    KESIMPULAN
1.   Sistem pengolahan limbah baik limbah cair maupun limbah B3 di RSUP Dr. Sardjito  Yogyakarta bisa dikatakan sudah sangat baik, ini dikarenakan lengkapnya alat alat pengolahan limbah
2.   Kualitas air limbah RSUP Dr. Sardjito yang dibuang ke Badan air sungai Code setelah melalui proses pengolahan dengan metode lumpur aktif sudah memenuhi baku mutu yang ditetapkan pemerintah.
3.    Pemanfaatan lumpur hasil pengolahan masih kurang optimal.

D.    REKOMENDASI
1.    Lebih baik jika dilakukan pemilahan limbah dari sumbernya dan sesuai dengan kategori karena pembuangan limbah cukup besar
2.    Sebaiknya para petugas pengolah limbah menggunakan APD untuk kegiatan yang mengandung resiko bahaya, karena dalam prakteknya masih terdapat petugas yang tidak menggunakan APD
3.    Karena produk lumpur kering hasil pengolahan masih banyak yang belum bias dimanfaatkan semaksimal mungkin maka, disarankan untuk bisa dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman hias/taman-taman yang ada disekitar RSUP Dr.Sardjito atau pihak-pihak lain yang membutuhkan (apabila lumpur tersebut tidak mengandung Bahan B3)


DAFTAR PUSTAKA

Agustiani, Elly; Slamet, Agus; Winarni, Dyah. 1998. Penambahan PAC Pada Proses Lumpur Aktif Untuk Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit : Laporan Penelitian. Surabaya: Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi 10 November
Arthono, Andri. 2000. Perencanaan Pengolahan Air Limbah Cair Untuk Rumah Sakit Dengan Metode Lumpur Aktif. Media ISTA : 3 (2) 2000 :15-18
Christiani. 2002. Pemanfaatan Substrat Padat Untuk Imobilisasi Sel Lumpur Aktif Pada Pengolahan Limbah Cair Rumah Sakit. Buletin Keslingmas
Giyatmi. 2003. Efektifitas Pengolahan Limbah Cair Rumah Sakit Dokter Sardjito Yogyakarta Terhadap Pencemaran Radioaktif. Yogyakarta : Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada

Said, Nusa Idaman. 1999. Teknologi Pengelolaan Air Limbah Rumah Sakit Dengan Sistem “Biofillter Anaerob-Aerob”. Seminar Teknologi Pengelolaan Limbah II: prosiding, Jakarta, 16-17 Feb 1999

1 komentar:

  1. ass wr wb
    seiring perkembangan industri yang kian meningkat di indoensia. terutama dalam pembangunan Rumah Sakit, Hotel dan Pabrik Pabrik terutama Pabrik Textil, Tidak Menutup Kemungkinan dapat meningkatkan pencemaran lingkungan yang di akibatkan air limbah dari institusi tersebut. untuk mengurangi dampak tersebut kami PT. BANYU BIRU BERKAH SEJATI menyediakan jasa konsultasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
    Hubungi kami disini http://banyubiruberkahsejati.co.id/

    BalasHapus