Jumat, 05 Juli 2013

CARA MEMBUKA SITUS YANG DIBLOKIR

Langsung aja ya, kali ini saya mau kasih tips sederhana cara membuka situs yang diblokir. Daripada saya nulis, biar lebih gampang dicerna liat gambar di bawah ini langkah-langkahnya. Cekidott..!!

Langkah pertama:

Langkah kedua:

Langkah ketiga:

Langkah terakhir:

Nah, abis itu silahkan sambungkan koneksi yang sudah diedit dan buka situs blokiran yang anda ingin buka.

Jika cara di atas tidak berpengaruh buat ngebuka alamat yang anda cari cobalah tips yang di bawah ini, yaitu mengganti proxy browser dengan proxy luar yang gratis.

Cara pertama:
"cari proxy gratis di .... "


Langkah kedua:


Langkah ketiga:
Langkah keempat:
Langkah kelima:

Jika masih belum bisa, coba ganti proxy yang lain. Karena setiap proxy punya kelemahan masing-masing. 
Selamat mencoba, GOOD LUCK !!







Makalah BALAI IPAL SEWON, BANTUL YOGYAKARTA

BALAI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (BALAI IPAL) SEWON
BANTUL PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

A.    LATAR BELAKANG
Di Indonesia hasil pemantauan kualitas air yang dilaksanakan melalui program Prokasih masih menunjukkan tingginya kadar polutan di badan air. Air mempunyai karakteristik fisik dan kimiawi yang sangat mempengaruhi kehidupan organisme di dalamnya. Apabila terjadi perubahan kualitas perairan, terutama oleh bahan pencemaran lingkungan, maka keseimbangan hidup organisme yang ada di perairan tersebut bahkan kehidupan manusia pada khususnya dapat terganggu. Pencemaran lingkungan air sebaiknya dikendalikan pada tingkat awal dari suatu proses pencemaran yang terjadi. Apabila tingkat pencemaran air sangat dominan, maka pencegahan dan penanggulangannya memerlukan biaya yang sangat mahal (Sugiharto, 2008).
Untuk Yogyakarta telah ada sebuah lembaga atau instansi yang khusus mengurus air limbah ini. Instansi tersebut dinamakan Balai IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Balai IPAL ini terletak di Jalan Bantul KM 6, tepatnya di Dusun Cepit, Kalurahan Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY. Sistem IPAL ini menjangkau kurang lebih 1250 hektar daerah pelayanan atau sekitar 110.000 penduduk dengan 18.420 sambungan yang terdiri atas 17.330 sambungan rumah tangga dan 1.090 sambungan nonrumah tangga. Luas lahan IPAL Sewon ini adalah 6, 7 hektar.
Pengelolaan Balai IPAL ini melibatkan tiga unsur pemerintah daerah yakni Sleman (5 kecamatan), Kota (seluruh kota), dan Bantul (3 kecamatan) yang lebih dikenal sebagai Kartamantul. Balai IPAL ini telah berdiri sejak 1996 atas hibah dana dari Jepang, APBN, dan APBD dengan jumlah total dana adalah 68 milyar. Secara garis besar IPAL ini memiliki tiga kemanfaatan yakni perlindungan terhadap badan-badan air (sungai dan sumur) dari pencemaran rumah tangga, peningkatan dan estetika lingkungan, pemanfaatan hasil IPAL berupa pupuk organik dari lumpur air limbah.
Balai IPAL ini melibatkan beberapa instansi antara lain: Dinas Kimpraswil Yogyakarta, Bappeda Kabupaten/Kota, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Kebersihan, Keindahan dan Pemakaman (DKKP), Dinas Kimpraswilhub, Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan. Pengoperasian Balai IPAL Sewon berada di bawah koordinasi Sub Dinas Cipta Karya Dinas Kimpraswil DIY dengan 35 personil yang berasal dari staf pemerintah Kartamantul Propinsi DIY dan pegawai kontrak. Sedangkan biaya operasional IPAL berasal dari APBD Kartamantul Propinsi DIY.

B.     Tujuan
Balai IPAL adalah menyelenggarakan pengelolaan air limbah rumah tangga, dengan fungsi sebagai berikut :
1.      Pengelolaan sistem jaringan utama dan pengoperasian sarana dan prasarana instalasi air limbah
2.      Pelakasanaan pemantau dan pengendalian air limbah rumah tangga
3.      Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan limbah rumah tangga
4.      Pelaksanaan dan pengendalian air limbah rumah tangga

C.    Manfaat
1.      Mendukung prokasih karena masyarakat Yogyakarta sebelum ada Balai IPAL membuan limbah rumah tangga langsung ke badan air dan sungai mengalami pencemaran code, winongo, dan serbong.
2.      Mengurangi pencemaran air tanah dimana pembuangan limbah yang sembarangan dan peresapan yang tidak memenuhi syarat akan mencemari sumber-sumber air bersih.
3.      Menghemat pembuatan IPAL pribadi karena pembuatan sendiri juga terlalu mahal, yang selanjutnya dapat disalurkan ke Balai IPAL.

D.    Hasil Kunjungan
Proses pengolahan air limbah :
1.      Air Limbah Yang Berasal Dari Rumah Tangga
Pada proses ini menggunakan pipa literal yang di hubungkan dengan pipa induk mengalir air limbah menuju IPAL sampai ke Balai IPAL air limbah masuk akan di pompa ke atas karena secara gravitasi ketinggian air masuk lebih rendah dari kolam pengelolaan.
2.      Air Limbah Kontrol
Ini dipompa menggunakan pompa ulir, pengoperasiannya secara otomatis yang menghubungkan air limbah masuk.
Ada 3 jenis pompa ulir :
Ø  2 pompa ulir yang beropersai
Ø  1 pompa ulir yang berfungsi sebagai cadangan ini akan beroperasi secara otomatis
3.      Rumah Pompa
Uliran-uliran ini yang berfungsi membawa air keatas setelah air limbah masuk lewat bawah rumah pompa alirannya ke bak gesember/pengendap pasir.
4.      Bak Pengendap Pasir
Dari bak gesember padatan seperti pasir akan mengendap secara gravity kemudian akan di sedot menggunakan pompa senop. Ada 2 bak gesember yang masing-masing di lengkapi pompa senop. Pompa celup beroperasi setiap pagi hari mnyedot endapan yang ada di dasar bak gesember di sebelah gesember ada pipa putih, ini berfungsi untukmenampung pasirnya. Limbah cair kembali lagi ke bak gesember  dan keluar melalui screen berfungsi untukmenampung sampah-sampah ringan, bila sampah sudah penuh akan di buang ke TPA.
5.      Bak Pembagi
Keluar dari bak gesember air menuju bak C bak pembagi di tengah air di bagi menjadi 2 lajur kolam yang di rangkai seri. Ada 2 jalur kolam-kolam pengolahan dimana prosesnya sama yaitu dari bak pembagi masing-masing masuk ke fakultatif 1 dan mengalir ke fakultatif II dan mengalir ke kolam yang paling ujung ke kolam akurasi.
Kolam fakultatif ada 4 yaitu fakultatif I dan fakultatif II ini ada proses pengolahan secara aerob dan anaerob. Proses yang di permukaan aerob di dasar kolam anaerob untuk yang aerob ini bakteri yang membutuhkan oksigen dibantu denagn mesin aerator di tengah kolam untuk mensupali oksigen dalama air limbah.
Sedangkan untuk proses yang ada di dasar yaitu bakteri anaerob yang berperan untuk menguraikan kotoran organik dan hasil akhir kolam fakultatif lumpur atau endapan penyedotan 1 tahun sekali dengan menggunakan kapal penyedot lumpur. Lapal ini yang akan mengelillingi kolam muter di operasikan system vakum yang ada atapnya. Mesin vakum setelah menyedot dialirkan antara fakulatatif I dan fakultatif II bak-bak pertama ke bak-bak penyaring lumpur ada 25 selanjutnya bak-bak mana yang akan diisi lumpur yang ada disitu akan mengendap itu akan terkena sinar matahari sebagai pupuk tanaman.


6.      Kolam Akurasi (Pematangan)
Kolam terakhir yaitu pematangan koliorm dari sinar matahari berupa limpahan jadi proses pengolahan IPAL yaitu overflow semakin banyak air masuk semakin cepat waktu tinggalnya di kolam-kolam pengolahan. Musim hujan waktu tinggalnya lebih cepat dalam, sedangkan waktu musim kemarau masa tinggal lebih lama karena COD nya lebih pekat dan pengolaahannya lebih lama.
Dari kolam akurasi air keluar dari 2 jalur menjadi satu lewat belakang ada bak-bak peri lumpur dan keluar kesungai bedog. Jadi hasil olahan Balai IPAL di buang ke sunagai bodog standar dengan air golongan B yang di peruntukkan untuk irigasi pertanian. Menuruk SK Gubernur DIY baku mutu DIY baku mutu golongan B yaitu BOD 30 mg/liter dan lumpur kering dimanfaatkan untuk produk tanaman.

Proses Pengolahan Instalasi Pengelolaan Air Limbah Sewon Bantul
Proses pengolahan limbah mula-mula disalurkan melalui sambungan rumah dan pipa lateral menuju IPAL, lalu air limbah masuk ke lubang kontrol, air limbah diangkat dengan pompa tipe ulir pada rumah pompa dan mengalir pada bak pengendap pasir. Selanjutnya pasir dan kerikil halus yang termuat dalam air limbah diendapkan, bahan polusi organis dalam air limbah didegradasi atau diurai secara aerobik dan anaerobik. Usai proses ini dihasilkan dua material yakni lumpur yang terkumpul di dasar kolam disedot dengan alat penyedot dan dipindahkan ke bak pengering lumpur dengan vakum truck kemudian lumpur keringnya dimanfaatkan untuk pupuk tanaman dan limbah cairnya masuk ke tempat penjernihan dan penguraian coliform, usai itu limbah cairnya dibuang ke sungai di antaranya Sungai Bedog.

E.     KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
1.      Kesimpulan
Ø  Balai IPAL Sewon Bantul merupakan temapat pengolahan air yang berasal dari aktifitas Rumah Tangga yaitu air buangan kamar mandi, kloset, mencuci dan memasak.
Ø  Bagian bagian IPAL sewon bantul sudah sangat lengkap.mulai dari tahap awal hingga tahap pengelolalan akhir.ini menunnjukkan bahwa IPAL Sewon Bantul dikategorikan IPAL yang baik dan lengkap.
Ø  Hasil olahan di Balai IPAL di buang ke sungai Bedog standar dengan air golongan B yang diperuntukkakn untuk irigasi pertanian. Berdasarkan Surat Keputusa Gibernur DIY baku mutu golongan B, yaitu BOD 30 mg/liter dan lumpur kering dimanfaatkan untuk pupuk tanaman.

2.      REKOMENDASI
Ø  Lumpur yang sudah kering tersebut sebaiknya dapat dimanfaatkan menjadi pupuk yang sudah siap pakai dengan cara pengepakan dan apabila lumpur tersebut tidak mengandung B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya)
Ø  Bagi pengelola IPAL Sewon Bantul bisa lebih ditingkatkan kembali fasilitas-fasilitas pendukung yang belum tersedia di IPAL Sewon Bantul.


DAFTAR PUSTAKA

Mara dan Cairncross, 1994. Pemanfaatan Air Limbah & Ekskreta Patoakan untuk perlindungan   Kesehatan Masyarakat. Bandung : ITB. Universitas Udayana

Sugiharto, 2008. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta : UI Press

Makalah PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

PENGOLAHAN AIR LIMBAH ( IPAL )
RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA

A.    PENDAHULUAN
Rumah Sakit Umum Pusat ( RSUP ) Dr.Sardjito merupakan rumah sakit pemerintahan Type A yang dikelola oleh Departemen Kesehatan. Rumah sakit ini memberikan 12 jenis pelayanan spesialis luas dan spesialis terbatas.Pelayanan spesialis dan subspesialis meliputi yaitu: pelayanan bedah, penyakit dalam, kebidanan, kesehatan anak, mata, THT, kulit dan kelamin, jiwa, syaraf, gigi mulut, jantung, paru-paru, bedah saraf dan ortopedi.
Pengolahan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah RSUP Dr. Sardjito secara biologis yaitu pengolahan air limbah untuk mengurangi zat-zat organik yang terdapat dalam air lmbah itu sendiri. Pengolahan semacam ini dikenal dengan nama proses lumpur aktif (sludge activated). Pada proses penggunaan lumpur aktif, air limbah ditampung terlebih dahulu dalam bak aerasi dengan tujuan untuk memperbanyak jumlah bakteri secara cepat agar proses biologis dalam mengurangi zat-zat organik yang terdapat dalam air limbah berjalan lebih cepat.
Lumpur aktif yang dikenal sebagai MLSS (mixed liquor suspended solid) yang digunakan pada proses biologi ini berasal dari lumpur bak pengendap yang dimasukkan ke dalam tangki aerasi bersama-sama dengan penambahan oksigen. Sisa lumpur yang mengendap dalam bak pengendap selanjutnya dipompakan ke bak pengering lumpur (sludge drying bed). ( Christiani, 2002 ).
Produksi limbah cair yang dihasilkan pada IPAL RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta sebesar 828.057 m3 perhari. Dari produksi limbah cair tersebut yang diolah dengan metode lumpur aktif menghasilkan lumpur sebanyak 0.31466 m³/hari. Dari produksi lumpur perhari yang begitu besar apabila tidak dimanfaatkan hanya akan tertumpuk pada bak penegering lumpur.

B.     HASIL PENGAMATAN LAPANGAN
Pengolahan air limbah dengan menggunakan Lumpur aktif, agar dapat memperoleh hasil dibawah ambang batas baku mutu yang telah ditetapkan, maka pengolahan air limbah dariawal (inlet) sampai akhir (outlet) harus melalui unit-unit proses sebagai berikut :
1.      Bak Penyaring (Barscreen)
Merupakan unit pengolahan yang pertama dijumpai dalam bangunan pengolahan air limbah. Air limbah yang dihasilkan oleh unit-unit penghasil limbah di tamping di bak penampung sementara lalu dialirkan ke pipa pemasukan dengan debit rata-rata 8 liter/detik. Dari inlet ini bak penyaring mulai berfungsi menyaring bahan-bahan kasar seperti plastik, kertas, kayu untuk tidak masuk ke unit pengolahan selanjutnya. Bak penyaring juga berfungsi untuk melindungi pompa, valve dn peralatan instalasi lainnya dari gangguan yang disebabkan oleh kehadiran benda-benda kasar yang terbawa aliran. Bak penyaring ada pada instalasi Pengolahan air limbah RSUP Dr. Sardjito terbuat dari anyaman besi stainlees steel sebanyak dua buah yang dipasang secara vertical dan sejajar. Bahan-bahan kasar yang tersangkut/tersaring diangkut secara manual dan dibuang sebagai sampah.
2.      Bak penangkap pasir
Bak penangkap pasir berfungsi untuk menghilangkan kerikil halus yang berupa pasir, koral atau zat padat berat lainnya yang mengalami penurunan kecepatan atau mempunyai gaya berat lebih besar dari zat organik yang dapat membusuk dalam air limbah. Dua bagian digunakan secara rutin dan satu lagi digunakan sebagai cadangan bila ada yang dikuras atau dibersihkan.
         Volume Bak = P × L × T = 7m × 1,9 m × 0,8 m =10,64 m
3.      Bak Equalisasi
Setelah melewati bak penagkap pasir, air limbah dengan debit antara 5-30 liter/detik dialirkan masuk ke bak equalisasi. Letak bak equalisai berada lebih rendah dari bak penangkap pasir. Fungsi utama dari bak equalisasi adalah untuk perataan debit air limbah yang masuk ke unit pengolahan selanjutnya. Selain dari pada itu bak equalisasi ini juga berfungsi sebagai sebagai kolam pencampuran air limbah itu sendiri. Pencampuran ini dimaksudkan untuk menciptakan keadaan yang homogen dari air limbah tersebut untuk selanjutnya dipompa ke bak aerasi. Pencampuran juga di lakukan oleh pompa pengangkut air limbah dari bak equalisasi ke bak aerasi dengan cara mengembalikan sebagian dari debit yang diangkut ke bak aerasi. Hal ini dilakukan karena bak aerasi mempunyai kapasitas pengolahan antara 10-12 liter/detik, sedangkan tenaga pompa pengangkut adalah 20 liter/detik, sisanya 10liter/detik dikembalikan ke bak equalisasi.
         Volume Bak Equalisasi = 200 m³, dengan dimensi = P × L × T = 5,5m × 5,5m × 7m


4.      Bak Aerasi
Bak aerasi pada instalasi pengolahan air limbah RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta memasukkan udara ke dalam air limbah melalui benda porous atau nozel. Nozel diletakkan di bagian dasar bak sebanyak 15 buah yang disusun seri dalam tiga baris sehingga ada lima nozel dalam satu barisnya. Pada proses aerasi harus tersedia oksigen minimum 1-2mg/liter air limbah atau secara teoritis banyaknya oksigen yang harus disediakan disbanding dengan derajat kekotoran air limbah yang ada adalah sebesar 40-80m3 udara untuk setiap 1kg BOD. Dengan adanya penambahan oksigen dan lumpur kedalam bak aerasi dapat meningkatkan penambahan mikroorganisme seiring pembentukan sel baru. Jumlah sel baru lebih banyak dari sel yang mati sehingga terjadi pertumbuhan mokroorganisme positif.
Hasil dari penguraian zat organik yang terdapat dalam air limbah pada bak aerasi ini akan membentuk flok (biosolid) yang kemudian dialirkan kedalam bak pengendapan (sedimentsi). Zat organic yang diuraikan oleh mikroorganisme dalam air limbah berupa gas, ion, cairan kolid atau bahan terlarut.
5.      Bak Pengendapan (Sedimentasi)
Bak pengendapan berfungsi untuk mengendapkan semua lumpur maupun partikel yang sudah melalui proses sebelumnya. Biosolid atau flok-flok yang terbentuk dari proses perombakan zat organic dan mengendap pada bak pengendap. Waktu pengendapan pada bak sedimentasi berlangsung selama 6jam. Flok-flok yang mengapung dipermukaan dapat dihilangkan dengan pengadukan secara mekanis dan juga mengeluarkan melalui over flow masuk kesumur penampungan flok untuk selanjutnya dipompa kembali ke bak aerasi.
6.      Bak Penampung Lumpur
Bak penampung lumpur ini berfungsi untuk menampung lumpur dari bak sedimentasi untuk selanjutnya dipompakan ke bak aerasi sebagai recycle. Bak ini juga berfungsi untuk menampung lumpur sisa recycle untuk selanjutnya lima hari sekali dipompakan ke bak pengering lumpur.
         Volume Bak Penampung Lumpur adalah 40m³ dengan dimensi = 4m × 2m × 5m
7.      Bak Biologis
Bak uji biologis ini berfungsi apakah air limbah hasil pengolahan sudah layak dibuang ke badan air atau belum. Dalam bak uji biologis ini dipelihara ikan dan tumbuhan azola sebagai indicator, hal ini menunjukkan bahwa air limbah tersebut sudah layak dibuang ke badan air.
8.      Bak Desinfeksi dan Bak Kontak Chlor
Merupakan unit pengolahan yang terakhir dalam setiap instalasi pengolahan air hasil pengolahan dialirkan ke badan air. Pembunuhan bakteri bertujuan untuk mengurangi atau membunuh mikroorganisme pathogen yang ada dalam air limbah. Bahan desinfeksi yang sering digunakan adalah chlorine yang berbentuk garam atau dikenal dengan nama kaporit (Ca(Ocl)²). Untuk dapat menghasilkan sisa chlor sesuai batas yang telah ditetapkan, diperlukan waktu kontak antara titik pembubuhan sampai effluent selama 30-60 menit, setelah itu effluent baru dialirkan ke badan air penerima. Kebutuhan kaporit untuk membunuh mikroorganisme pada instalasi pengolahan air limbah RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta adalah 1kg/hari.
9.      Bak Desinfeksi dan Bak Kontak Chlor Darurat
Fungsinya sama dengan bak desinfeksi dan bak kontak chlor utama. Bak desinfeksi dan kontak chlor darurat ini dipergunakan apabila bak desinfeksi dan kontak chlor utama dalam perbaikan atau pemeliharaan
10.  Bak Pengering Lumpur
Lumpur merupakan hasil akhir dari setiap instalasi pengolahan air limbah. Pada Instalasi pengolahan air limbah yang menggunakan sistem lumpur aktif yang dihasilkan dalam bak sedimentasi sebagai recycle dan sebagian lagi dipompakan ke bak pengering lumpur. Lumpur yang ditumpahkan ke bak pengering lumpur biasanya mengandung kadar solid 10 % dan air 90 %.
Air yang meresap melewati lapisan penyaring, masuk ke pipa Unser Drain dan sebagian lagi menguap ke udara. Waktu pengeringan lumpur biasanya 3 sampai 4 minggu dengan ketebalan lapisan lumpur dalam bak pengering antara 15 cm sampai 25 cm. semakin tebal lapisan lumpur, waktu pengeringan semakin lama apalagi ke dalam bak pengering lumpur yang sudah berisi lumpur masih dimasukkan lagi lumpur yang baru. Keadaan cuaca juga mempengaruhi lamanya waktu pengeringan lumpur.


C.    KESIMPULAN
1.   Sistem pengolahan limbah baik limbah cair maupun limbah B3 di RSUP Dr. Sardjito  Yogyakarta bisa dikatakan sudah sangat baik, ini dikarenakan lengkapnya alat alat pengolahan limbah
2.   Kualitas air limbah RSUP Dr. Sardjito yang dibuang ke Badan air sungai Code setelah melalui proses pengolahan dengan metode lumpur aktif sudah memenuhi baku mutu yang ditetapkan pemerintah.
3.    Pemanfaatan lumpur hasil pengolahan masih kurang optimal.

D.    REKOMENDASI
1.    Lebih baik jika dilakukan pemilahan limbah dari sumbernya dan sesuai dengan kategori karena pembuangan limbah cukup besar
2.    Sebaiknya para petugas pengolah limbah menggunakan APD untuk kegiatan yang mengandung resiko bahaya, karena dalam prakteknya masih terdapat petugas yang tidak menggunakan APD
3.    Karena produk lumpur kering hasil pengolahan masih banyak yang belum bias dimanfaatkan semaksimal mungkin maka, disarankan untuk bisa dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman hias/taman-taman yang ada disekitar RSUP Dr.Sardjito atau pihak-pihak lain yang membutuhkan (apabila lumpur tersebut tidak mengandung Bahan B3)


DAFTAR PUSTAKA

Agustiani, Elly; Slamet, Agus; Winarni, Dyah. 1998. Penambahan PAC Pada Proses Lumpur Aktif Untuk Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit : Laporan Penelitian. Surabaya: Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi 10 November
Arthono, Andri. 2000. Perencanaan Pengolahan Air Limbah Cair Untuk Rumah Sakit Dengan Metode Lumpur Aktif. Media ISTA : 3 (2) 2000 :15-18
Christiani. 2002. Pemanfaatan Substrat Padat Untuk Imobilisasi Sel Lumpur Aktif Pada Pengolahan Limbah Cair Rumah Sakit. Buletin Keslingmas
Giyatmi. 2003. Efektifitas Pengolahan Limbah Cair Rumah Sakit Dokter Sardjito Yogyakarta Terhadap Pencemaran Radioaktif. Yogyakarta : Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada

Said, Nusa Idaman. 1999. Teknologi Pengelolaan Air Limbah Rumah Sakit Dengan Sistem “Biofillter Anaerob-Aerob”. Seminar Teknologi Pengelolaan Limbah II: prosiding, Jakarta, 16-17 Feb 1999