BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Semenjak manusia pada jaman purbakala sampai dengan jaman sekarang,
manusia telah mengalami perkembangan dalam setiap periode waktu yang
dilewatinya yang telah kita kenal dengan berbagai jaman seperti jaman
meolitikum, neolitikum. Peradaban manusia telah mengalami kemajuan sampai
sekarang. Selama perkembangan itu, manusia menjalani kehidupan bergantung pada
pertanian dan agrikultur. Dengan orientasi kehidupan tersebut, manusia selalu
berusaha menjaga dan melestarikan lingkungannya dengan sebaik-baiknya yang
bertujuan untuk menjaga kelangsungan hidup manusia pula.
Dan pada saatnya, perkembangan manusia telah mengalami jaman revolusi
industri yang menggantungkan kehidupan manusia pada bidang perindustrian.
Dengan orientasi hidup tersebut, dunia agrikultur pun mengalami kemunduran
perlahan-lahan. Nilai-nilai kehidupan manusia pun mengalami perubahan, terutama
dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Perubahan-perubahan yang terjadi
ini menghasilkan dampak baik positif maupun negatif.
Akhir-akhir ini sudah banyak sekali terlihat dan dapat
dirasakan dampak ataupun kerugian dari perbuatan-perbuatan manusia yang merusak
alam dan lingkungan tersebut seperti udara yang semakin panas, tanah longsor,
banjir, dll. Keterpurukan ekonomi telah membuat mereka lupa akan pentingnya
keseimbangan ekosistem di alam sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Kurangnya pendidikan dan pengetahuan juga menjadi faktor
penyebab mereka melakukan tindakan tersebut.
Kemajuan teknologi yang berkembang pesat, banyak menghasilkan
beberapa produk-produk canggih justru malah menciptakan suasana dan kondisi
lingkungan yang tidak ramah lingkungan. Dari beberapa faktor perusak lingkungan
yang telah disebutkan di atas mengakibatkan pemanasan global dan perubahan iklim yang tidak menentu.
Para ahli lingkungan telah menemukan indikasi adanya dampak yang terbesar
bagi lingkungan dan dunia secara global akibat keajuan teknologi yang telah
berkembang pesat ini. Dampak negatif ini adalah terjadinya pemanasan di dunia
dan sering disebut sebagai Global Warming. Namun, masalah Global Warming
sebagai masalah lingkungan ini masih diperdebatkan kebenarannya oleh beberapa
pihak yang menganggap Global Warming adalah alasan yang diciptakan untuk
membatasi laju perkembangan perindustrian. Walaupun masih terdapat perdebatan
mengenai kebenaran keadaan Global Warming di antara para ahli lingkungan
tersebut, namun masalah Global Warming ini tidaklah dapat dipungkiri untuk
diteliti dan ditelaah lebih lanjut demi kelangsungan kehidupan manusia.
Untuk itu, makalah yang kami buat ini akan memperlihatkan dan menjelaskan
kebenaran mengenai masalah pemanasan Global ini dengan berdasarkan studi literature dari berbagai sumber yang
terpercaya dan kompeten. Pembahasan dan penjelasan yang dilakukan pun akan
ditinjau dari sudut pandang pihak yang pro dan pihak yang kontra. Dalam makalah
ini pun akan menyajikan fakta-fakta yang memperkuat keberadaan masalah
pemanasan Global ini.
B.
Tujuan
1.
Mengetahui tentang apa itu Global
Warming?
2.
Mengetahui apa penyebab terjadinya
Global Warming
3.
Mengetahui penelitian-penelitian dunia yang
membuktikan terjadinya Global Warming.
4.
Mengetahui dampak yang diakibatkan oleh
Global Warming
5.
Mengetahui upaya-upaya pengendalian Global Warming, baik
secara internasional maupun nasional.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Global Warming
Global warming dalam bahasa
Indonesia yaitu “Pemanasan Global” adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada
permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate
Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar
peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan
besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas
manusia" melalui efek rumah kaca. Kesimpulan
dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik,
termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih
terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan
beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan
global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga
11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh
penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca pada
masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun
sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan
kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari
seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan
besarnya kapasitas kalor lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan
perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya
intensitas fenomena cuaca yang ekstrem, serta perubahan jumlah dan
pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan
global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai
jenis hewan.
Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah
pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan, dan bagaimana
pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari
satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan
politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus
dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk
beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar
pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah
pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
B.
Penyebab Global
Warming
1.
Efek Rumah Kaca
Segala sumber energi yang
terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi
tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi
ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang
menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan
memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa
luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat
menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana yang
menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan
kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut
akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga
mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
Gas-gas tersebut berfungsi
sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin
meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang
terperangkap di bawahnya.
Efek rumah kaca ini sangat
dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet
ini akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu rata-rata sebesar 15°C (59 °F),
bumi sebenarnya telah lebih panas 33°C (59°F) dari suhunya semula, jika tidak
ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18°C sehingga es akan menutupi seluruh
permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah
berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.
2.
Efek Umpan Balik
Anasir penyebab pemanasan
global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya.
Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca
seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang
menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan
akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya
suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya
lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri.
(Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembapan relatif udara hampir konstan atau
bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya
berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di
atmosfer.
Efek umpan balik karena
pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat
dari bawah, awan akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan,
sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas,
awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke
angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya
menghasilkan pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail
tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit
direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila
dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim
(sekitar 125 hingga 500km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan
IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua
bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah
pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke
Empat.
Umpan balik
penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika
suhu global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan
yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air
di bawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan
memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya
akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan
dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang
berkelanjutan.
Umpan balik positif akibat
terlepasnya CO2 dan CH4 dari
melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme
lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga
akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif.
Kemampuan lautan untuk
menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan
oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi
pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan
penyerap karbon yang rendah.
3.
Variasi Matahari
Terdapat hipotesa yang
menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan
balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan
antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya
aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek
rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah
paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan
terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini.
(Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan
efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun
1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung
berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga
tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.
Ada beberapa hasil
penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah diabaikan
dalam pemanasan global. Dua ilmuwan dari Duke University memperkirakan
bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan suhu
rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980
dan 2000. Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan
pedoman saat ini membuat perkiraan berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca
dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek
pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh.
Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan
sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan
yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah
kaca.
Pada tahun 2006, sebuah tim
ilmuwan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan
bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat "keterangan"
dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi
peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat "keterangannya" selama
30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan
global. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada
hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik
melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.
4.
Penggundulan Hutan
Maraknya
kasus penggundulan hutan merupakan salah satu penyebab pemanasan global saat
ini. Penggundulan hutan yang mengurangi penyerapan karbon oleh pohon,
menyebabkan emisi karbon bertambah sebesar 20%, dan mengubah iklim mikro lokal
dan siklus hidrologis, sehingga mempengaruhi kesuburan tanah. Hutan yang
menjadi paru-paru Bumi kini tidak dapat berfungsi secara maksimal karena sudah
sangat berkurangnya jumlah pohon yang ada. Jumlah pohon yang ada tidak dapat
menyeimbangi banyaknya jumlah CO2 yang ada di Bumi.
5.
Peningkatan Penggunaan
Pupuk Kimia Pada Lahan Pertanian.
Pada
pertengahan abad ke-20, penggunaan pupuk kimia (yang sebelumnya penggunaan
pupuk kandang) telah meningkat secara dramatis. Tingginya tingkat penggunaan
pupuk yang kaya nitrogen memiliki efek pada penyimpanan panas dari lahan
pertanian (oksida nitrogen memiliki kapasitas 300 kali lebih panas- per unit
volume dari karbon dioksida) dan kelebihan limpasan pupuk menciptakan
'zona-mati' di laut. Selain efek ini, tingkat nitrat yang tinggi dalam air
tanah karena pemupukan yang berlebihan berdampak terhadap kesehatan manusia
yang cukup memprihatinkan.
C.
Penelitian
– penelitian
Global Warming
1.
Penelitian yang Relevan antara lain:
a.
Pada tanggal 24/12/1999,
berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, James Baker, sekretaris dari U.S.
National Oceanic and Atmospheric Administration, bersamaa dengan Peter Ewins,
ketua dari British Meteorological Office, memperingatkan bahwa iklim dunia
berubah dengan cepat, dan manusia harus segera menindaki perubahan ini dengan
mencoba untuk mengurangi emisi karbon dioksida ke udara.
b.
Pada tanggal 01/03/1999,
American Geophysical Union, suatu badan keilmuan internasional yang membawahi
sekitar tiga puluh lima ribu ilmuwan yang mengkhususkan diri pada penelitian
tentang Bumi dan planet-planet mengeluarkan pernyatan yang berani mengenai
perubahan iklim dan hubungannya dengan gas-gas efek rumah kaca. Pernyataan ini
dikeluarkan setelah mengadakan serangkaian penelitian mengenai pemanasan
Global.
c.
Pada tanggal 18/12/2001,
berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, Organisasi Meteorologi Dunia
memperingatkan bahwa temperatur Global mengalami peningkatan tiga kali lebih
cepat dibandingkan dengan waktu-waktu lalu.
d.
Pada tanggal 17/01/2002,
didapatkan data dari statelit dari hasil penelitian yang dilakukan oleh NASA di
Langley Research Centre, yang membantah pernyataan Richard Lindzen, seorang
skeptis, yang menyatakan bahwa pengurangan jumlah awan di daerah tropis akan
menyebabkan pendinginan terhadap bumi dan mengatasi pemanasan Global yang
mungkin terjadi. Hasil penelitian NASA menunjukkan bahwa awan-awan ini akan
memperkuat efek rumah kaca, dan memicu terjadinya pemanasan Global.
e.
Pada tanggal 26/04/2002, Para
ilmuwan menyatakan temperatur Global selama 3 bulan pertama di tahun 2002 telah
mengalami peningkatan, dan lebih tinggi dari temperatur yang pernah dicapai
buni dalam 1000 tahun terakhir. Penelitian ini dimotori oleh Dr. Geoff Jenkins,
direktur UK government’s Hadley Centre yang khusus meneliti dan memprediksikan
perubahan iklim dunia.
2.
Mengukur Pemanasan Global
Pada awal 1896, para ilmuwan
beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer
dan dapat meningkatkan suhu rata-rata global. Hipotesis ini dikonfirmasi
tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global
yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel atmosfer dari puncak
gunung Mauna Loa di Hawai.
Hasil pengukurannya
menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer.
Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-data yang
dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari
gas-gas rumah kaca di atmosfer.
Para ilmuwan juga telah lama
menduga bahwa iklim global semakin menghangat,
tetapi mereka tidak mampu memberikan bukti-bukti yang tepat. Suhu terus
bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya.
Perlu bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memperoleh data-data yang
menunjukkan suatu kecenderungan (trend) yang jelas. Catatan pada akhir 1980-an
agak memperlihatkan kecenderungan penghangatan ini, akan tetapi data statistik
ini hanya sedikit dan tidak dapat dipercaya.
Stasiun cuaca pada awalnya, terletak dekat
dengan daerah perkotaan sehingga pengukuran suhu akan dipengaruhi oleh panas
yang dipancarkan oleh bangunan dan kendaraan dan juga panas yang disimpan oleh
material bangunan dan jalan. Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca
yang terpercaya (terletak jauh dari perkotaan), serta dari satelit. Data-data ini memberikan
pengukuran yang lebih akurat, terutama pada 70 persen permukaan planet yang
tertutup lautan. Data-data yang lebih akurat ini menunjukkan bahwa
kecenderungan menghangatnya permukaan Bumi benar-benar terjadi. Jika dilihat
pada akhir abad ke-20, tercatat bahwa sepuluh tahun terhangat selama seratus
tahun terakhir terjadi setelah tahun 1980, dan tiga tahun terpanas terjadi
setelah tahun 1990, dengan 1998 menjadi yang paling panas.
Dalam laporan yang
dikeluarkannya tahun 2001, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan
bahwa suhu udara global telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit)
sejak 1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh
aktivitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC
memprediksi peningkatan suhu rata-rata global akan meningkat 1.1 hingga
6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.
IPCC panel juga
memperingatkan, bahwa meskipun konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi
sejak tahun 2100, iklim tetap terus menghangat selama periode tertentu akibat
emisi yang telah dilepaskan sebelumnya. karbon dioksida akan tetap berada di
atmosfer selama seratus tahun atau lebih sebelum alam mampu menyerapnya
kembali.
Jika emisi gas rumah kaca
terus meningkat, para ahli memprediksi, konsentrasi karbondioksioda di atmosfer
dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad ke-22 bila dibandingkan
masa sebelum era industri. Akibatnya, akan terjadi perubahan iklim secara
dramatis. Walaupun sebenarnya peristiwa perubahan iklim ini telah terjadi
beberapa kali sepanjang sejarah Bumi, manusia akan menghadapi masalah ini
dengan risiko populasi yang sangat besar.
3.
Model Iklim
Para ilmuwan telah
mempelajari pemanasan global berdasarkan model-model computer berdasarkan
prinsip-prinsip dasar dinamikan fluida, transfer radiasi, dan proses-proses
lainya, dengan beberapa penyederhanaan disebabkan keterbatasan kemampuan
komputer. Model-model ini memprediksikan bahwa penambahan gas-gas rumah kaca
berefek pada iklim yang lebih hangat. Walaupun digunakan
asumsi-asumsi yang sama terhadap konsentrasi gas rumah kaca pada masa
depan, sensitivitas iklimnya masih akan berada pada suatu rentang tertentu.
Dengan memasukkan
unsur-unsur ketidakpastian terhadap konsentrasi gas rumah kaca dan pemodelan
iklim, IPCC memperkirakan pemanasan sekitar1.1 °C hingga
6.4 °C (2.0 °F hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan
2100. Model-model iklim juga digunakan untuk menyelidiki penyebab-penyebab
perubahan iklim yang terjadi saat ini dengan membandingkan perubahan yang
teramati dengan hasil prediksi model terhadap berbagai penyebab, baik alami
maupun aktivitas manusia.
Model iklim saat ini
menghasilkan kemiripan yang cukup baik dengan perubahan suhu global hasil
pengamatan selama seratus tahun terakhir, tetapi tidak mensimulasi semua aspek
dari iklim. Model-model ini tidak secara pasti menyatakan bahwa
pemanasan yang terjadi antara tahun 1910 hingga 1945 disebabkan oleh proses
alami atau aktivitas manusia; akan tetapi; mereka menunjukkan bahwa pemanasan
sejak tahun 1975 didominasi oleh emisi gas-gas yang dihasilkan manusia.
Sebagian besar model-model
iklim, ketika menghitung iklim pada masa depan, dilakukan berdasarkan
skenario-skenario gas rumah kaca, biasanya dari Laporan Khusus terhadap
Skenario Emisi (Special Report on Emissions Scenarios /
SRES) IPCC. Yang jarang dilakukan, model menghitung dengan menambahkan simulasi
terhadap siklus karbon; yang biasanya menghasilkan
umpan balik yang positif, walaupun responnya masih belum pasti (untuk skenario
A2 SRES, respon bervariasi antara penambahan 20 dan 200 ppm CO2). Beberapa
studi-studi juga menunjukkan beberapa umpan balik positif.
Pengaruh awan juga merupakan
salah satu sumber yang menimbulkan ketidakpastian terhadap model-model yang
dihasilkan saat ini, walaupun sekarang telah ada kemajuan dalam menyelesaikan
masalah ini. Saat ini juga terjadi diskusi-diskusi yang masih berlanjut
mengenai apakah model-model iklim mengesampingkan efek-efek umpan balik dan tak
langsung dari variasi Matahari.
D.
Dampak Pemanasan
Global
Para ilmuwan menggunakan model komputer dari suhu, pola presipitasi, dan
sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model
tersebut, para ilmuwan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak
pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan
kesehatan manusia.
1.
Iklim Mulai Tidak Stabil
Para ilmuwan memperkirakan
bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara
(Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi.
Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih
sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang
sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada
pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit
serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa
area. Suhu pada musim dingin dan malam hari
akan cenderung untuk meningkat.
Daerah hangat akan menjadi
lebih lembap karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuwan
belum begitu yakin apakah kelembapan tersebut malah
akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini
disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya
akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer.
Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih
banyak, sehingga akan memantulkan cahaya Matahari kembali ke angkasa luar,dimana hal
ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembapan yang tinggi
akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap
derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat
sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi
lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya
beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup
lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane)
yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan
dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan
terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrem.
2.
Peningkatan Permukaan Laut
Ketika atmosfer menghangat,
lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar
dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es
di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak
volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 –
25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuwan IPCC memprediksi
peningkatan lebih lanjut 9–88 cm (4-35 inchi) pada abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut
akan sangat memengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40
inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak
pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat.
Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan
meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat
besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin
hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.
Bahkan sedikit kenaikan
tinggi muka laut akan sangat memengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm
(20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru
juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah
dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.
3.
Suhu Global Cenderung Meningkat
Orang mungkin beranggapan
bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya,
tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh,
mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih
lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di
beberapa bagian Afrikamungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang
menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan
salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair
sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami
serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.
4.
Gangguan Ekologis
Hewan dan
tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini
karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global,
hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan.
Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya
menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi
perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang
terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Diperkirakan sebanyak 20-30% spesies tanaman dan binatang
akan meningkat rasio kepunahannya jika terjadi kenaikan suhu sebesar 1,5-2,50C
rusaknya habitat dan ketidak mampuan spesies tersebut untuk bertahan hidup
dengan kondisi suhu yang tidak normal, atau diluar batas daya tahan hidupnya.
5.
Dampak Sosial dan Politik
Perubahan cuaca dan lautan dapat
mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian.
Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul
kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang
ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara
dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam
(banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana
alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering
muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi,defisiensi mikronutrien, trauma
psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.
Pergeseran ekosistem dapat
memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun
penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Seperti meningkatnya kejadian Demam Berdarah karena munculnya ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini
berkembang biak. Dengan adamya perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies
vektor penyakit (eq Aedes aegypti), Virus, bakteri, plasmodium menjadi lebih
resisten terhadap obat tertentu yang target nya adalah organisme tersebut.
Selain itu bisa diprediksi kan bahwa ada beberapa spesies yang secara alamiah
akan terseleksi ataupun punah dikarenakan perbuhan ekosistem yang ekstreem ini.
hal ini juga akan berdampak perubahan iklim (Climate change)yang bisa berdampak
kepada peningkatan kasus penyakit tertentu seperti ISPA (kemarau panjang /
kebakaran hutan, DBD Kaitan dengan musim hujan tidak menentu).
Gradasi Lingkungan yang
disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi pada
waterborne diseases dan vector-borne disease. Ditambah pula dengan polusi udara
hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi
terhadap penyakit-penyakit saluran pernapasan seperti asma, alergi, coccidiodomycosis, penyakit jantung dan paru kronis, dan lain-lain.
E.
Pengendalian
Pemanasan Global
Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia
meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Langkah-langkah yang dilakukan atau yang
sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global pada
masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul
sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim pada
masa depan.
Kerusakan yang parah dapat di atasi dengan berbagai cara. Daerah pantai
dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air
laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah
ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat
menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur)
habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara.
Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah sepanjang koridor ini
untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.
Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas
rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan
menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini
disebut carbon sequestration (menghilangkan
karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.
Upaya-upaya yang dilakukan pada level internasional antara lain:
1.
Pada periode 1940 – 1972, tercatat hampir 60 perjanjian
internasional terkait dengan lingkungan hidup
2.
Pada periode 1972-1992
a.
PBB membentuk UNEP dan Dana Lingkungan ( environmental Fund )
b.
Konvensi Vienna (1985)
c.
Protokol Montreal (1987)
d.
Konvensi Biodiversity (1992)
e.
Pembentukan World Comission on Enviromental and Development
(WCED)
3.
Pada periode (1992-2002)
a.
Deklarasi Rio ( Rio Declaration) dan Agenda 21
b.
ECOSOC
c.
Konvensi Rotterdam
d.
Protokol Kyoto (1998)
e.
Protokol Kartagena
4.
Pada periode 2002-sekarang
a.
KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg (2002)
b.
Desember 2007 di Bali konferensi PBB tentang perubahan iklim
yang hasilnya disebut Bali Road Map
Upaya yang telah dilakukan pemerintah Indonesia adalah upaya yang dilakukan untuk menanggulangi pemanasan global
telah dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung, terutama melalui
sektor kehutanan. Karena secara biologi dan kimia hutan dapat berperan sebagai
penyerap/penyimpan karbon. Pengelolaan hutan konservasi dan hutan lindung
bertujuan mengurangi konversi hutan untuk kegiatan lain, pemberantasan
penebangan liar, dan penanggulangan kebakaran hutan. Sehingga akan menguranggi
emisi CO dan meningkatkan daya tahan dalam perubahan iklim.
Demikian juga rehabilitasi hutan yang terdegradasi dan
penanaman hutan dengan berbagai tujuan akan meningkatkan kapasitas hutan untuk
menyerap karbon dan akhirnya akan mempunyai peran dalam menurunkan laju
pemanasan global. Beberapa kegiatan penanaman yang dilakukan kementerian
kehutanan dalam mengurangi dampak pemanasan global antara lain :
1. Gerakan
Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN)
2. Aksi
Penanaman Serentak Indonesia (APSI)
3. Gerakan
Perempuan Tanam Dan Pelihara Pohon (GPTPP)
4. Gerakan
Menanam One Man One Tree (OMOT)
Sedangkan
upaya yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari antara lain:
1.
Mengurangi aktifitas menggunakan kendaraan
pribadi yang menggunakan BBM.
2.
Mengurangi pemakaian listrik, terutama yang
sedang tidak. dipergunakan seperti lampu, komputer, laptop, AC, televisi dan
lain-lain.
3.
Stop men-charger baterai HP dan laptop
setelah daya penuh.
4.
Menggunakan lampu listrik yang hemat energi dan
lebih ramlingkungan.
5.
Menggurangi penggunaan air bersih.
6.
Menanam dan memelihara pohon sebanyak-banyaknya.
7.
Hindari penggunaan plastik yang berlebihan
(Basuki, 2010).
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
A.
Simpulan
1. Global
warming / Pemanasan Global adalah suatu proses meningkatnya suhu
rata-rata atmosfer,
laut,
dan daratan Bumi
2. Penyebab
Global Warming antara lain: akibat peningkatan jumlah emisi Gas Rumah Kaca di
atmosfer, efek umpan balik, variasi matahari, penggundukan hutan, dan pemakaian
pupuk kimia pada lahan pertanian.
3. Penelitian
yang relevan terkait Global Warming antara lain:
a. American
Geophysical Union, suatu badan keilmuan internasional yang membawahi sekitar
tiga puluh lima ribu ilmuwan yang mengkhususkan diri pada penelitian tentang
Bumi dan planet-planet.
b.
Organisasi Meteorologi
Dunia memperingatkan bahwa temperatur Global mengalami peningkatan tiga kali
lebih cepat dibandingkan dengan waktu-waktu lalu.
c.
penelitian NASA
menunjukkan bahwa awan-awan ini akan memperkuat efek rumah kaca, dan memicu
terjadinya pemanasan Global.
d.
Penelitian ini dimotori
oleh Dr. Geoff Jenkins, direktur UK government’s Hadley Centre yang khusus
meneliti dan memprediksikan perubahan iklim dunia
4. Dampak
dari Pemanasan Global antara lain:
a. Iklim
yang tidak stabil
b. Kenaikan
permukaan laut
c. Suhu
global semakin meningkat
d. Gangguan
ekologis
e. Dampak
social dan politik
5. Upaya
pengendalian yang telah dilakukan adalah perjanjian-perjanjian internasional (
Protokol Kyoto, Bali Road Map, dll) , secara nasional Indonesia telah dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung,
terutama melalui sektor kehutanan. Karena secara biologi dan kimia hutan dapat
berperan sebagai penyerap/penyimpan karbon, dan secara keseharian bisa dilakukan
dengan mengurangi aktifitas menggunakan kendaraan pribadi yang menggunakan BBM
dan mengurangi pemakaian listrik, terutama yang sedang tidak. dipergunakan
seperti lampu, komputer, laptop, AC, televisi dan lain-lain.
B.
Saran
Pemanasan global ini dapat di kurangi
jika kita menanamkan rasa cinta kepada Bumi ini. Kita harus dapat menjaga dan
melestarikannya, demi kelangsungan kehidupan di masa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Ammann, Caspar, et al. (06-04-2007).
"Solar influence on climate during the past millennium: Results from
ransient simulations with the NCAR Climate Simulation Model". Proceedings
of the National Academy of Sciences of the United States of America 104 (10):
3713-3718.\
Buesseler, K.O., C.H. Lamborg, P.W.
Boyd, P.J. Lam, T.W. Trull, R.R. Bidigare, J.K.B. Bishop, K.L. Casciotti, F.
Dehairs, M. Elskens, M. Honda, D.M. Karl, D.A. Siegel, M.W. Silver, D.K.
Steinberg, J. Valdes, B. Van Mooy, S. Wilson. (2007) "Revisiting carbon
flux through the ocean's twilight zone." Science 316: 567-570.
Climate Change
2001:Working Group I: The Scientific Basis (Fig. 2.12).
Hegerl, Gabriele C.; et al.
Understanding and Attributing Climate Change. (PDF) Climate Change 2007: The
Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth
Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change.
Intergovernmental Panel on Climate Change. Diakses pada 20-05-2007 Kutipan:
Recent estimates (Figure 9.9) indicate a relatively small combined effect of
natural forcings on the global mean temperature evolution of the seconds half
of the 20th century, with a small net cooling from the combined effects of
solar and volcanic forcings
http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global
(diakses pada 22 September 2013)
http://www.scribd.com/doc/22182806/Makalah-Global-Warming (
diakses pada 22 September 2013)
Marsh, Nigel, Henrik, Svensmark
(November 2000). "Cosmic Rays, Clouds, and Climate" (PDF). Space
Science Reviews 94: 215-230. DOI:10.1023/A:1026723423896
NASA: Global Warming to Cause More
Severe Tornadoes, Storms, Fox News, August 31, 2007.
Scafetta, Nicola, West, Bruce J.
(09-03-2006). "Phenomenological solar contribution to the 1900-2000 global
surface warming" (PDF). Geophysical Research Letters 33 (5).
DOI:10.1029/2005GL025539. L05708
Soden, Brian J., Held, Isacc M.
(01-11-2005). "An Assessment of Climate Feedbacks in Coupled
Ocean-Atmosphere Models" (PDF). Journal of Climate 19 (14)
Stocker, Thomas F.; et
al. 7.5.2 Sea Ice. Climate Change 2001: The Scientific Basis. Contribution of
Working Group I to the Third Assessment Report of the Intergovernmental Panel
on Climate Change. Intergovernmental Panel on Climate Change.
Summary for
Policymakers. (PDF) Climate Change 2007: The Physical Science Basis.
Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the
Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on Climate
Change.